Rabu, 08 Januari 2014

Susahnya Akses Pendidikan Untuk Anak-anak Papua di Sugapa

Tulisan ini dirangkum dari twit" @1000_guru untuk diemailkan ke seribu guru.

Sugapa adalah sebuah distrik yang juga berfungsi sebagai ibukota Kabupaten Intan Jaya, Papua. Kabupaten dengan jumlah penduduk lk 45 ribu jiwa ini tergolong daerah terisolasi. Meski demikian daerah ini menyimpan sumber daya alam dan obyek wisata yang bergengsi diantaranya Pegunungan Cartenz. Tidak ada jalan darat yang menghubungkan ke daerah tetangga. Kehidupan masyarakat dan aktivitas pemerintah tergantung keberadaan bandara.
Jalur penerbangan menjadi sebuah “nafas” kehidupan masyarakat yang berada di Sugapa ini. Jika penerbangan terganggu akan berpengaruh terhadap banyak kepentingan. Arus barang kebutuhan pokok sehari-hari dan sejumlah barang yang digunakan untuk sarana pembangunan hanya bisa diangkut dengan pesawat. Bandara yang diapit pegunungan ini memiliki runway sepanjang 600 meter dengan lebar 18 meter.
Untuk menuju ke Sugapa, bisa dilakukan penerbangan dari Nabire maupun Timika. 45 menit dari Kota Nabire.


Di Sugapa ada sekolah Dasar, tapi itupun jaraknya sangat jauh sekali, perlu biaya mahal untuk bisa pergi kesekolah. Bila naik ojek dari pelosok desa kekota bisa 150 ribu, dan kalau hujan bisa sampai 300 ribu. Harga bensin 1 ltr 45 ribu. Beras 1 liter, 35 ribu. Kenapa mahal? karena semua bahan diangkut dengan pesawat, tak ada jalan darat menuju Sugapa. Bukan rahasia lg bila transportasi darat di Papua sangatlah susah,1 pulau yang tak punya jalur darat yang bisa menghubungkan seluruh papua. Padahal pulau ini adalah pulau yang sangat kaya, kekayaannya pasti bisa membuat jalan tol yang mulus dari ujung Manokwari hingga ke Marauke. Tapi nyatanya, sampai 68 tahun Papua di pangkuan ibu pertiwi, Pembangunan Jalan Darat dipapua hanya sekedar wacana -- masih susah. Ketika kak jimmie a berada di Bandara Nabire, dia bertemu dengan ibu ini yang membawa anak ayam untuk diterbangkan ke Sugapa.

Hal ini tentunya akan berdampak juga pada pendidikan untuk anak-anak di papua, sekolah-sekolah dasar mungkin tak menyentuh sampai ke pelosok. Anak-anak ini adalah yg beruntung bisa menikmati pendidikan. Ada ribuan anak Papua yg tidak dpt menikmati pendidikan.

mereka berasal dari pedalaman-pedalaman di Sugapa yang harus tinggal di asrama untuk dpt bersekolah di TK Cendrawasih.

TK Cendrawasih bukan sekolah TK yg mewah seperti di pulau jawa, hanya TK yang sederhana, tapi sdh cukup bgs di Sugapa

Disinilah mimpi anak-anak ini akan terwujudkan, menjadi generasi Papua dapat membangun tanahnya yang kaya kelak .

Andai saja mereka dapat mengolah melimpahnya emas di tanah papua, pendidikan Papua pasti tidak akan susah dijangkau. Kelak mereka akan menjadi ahli tambang, yang akan mengolah emas & tembaga untuk kemakmuran rakyat Papua dan Indonesia.

Lihat mereka, tak ada taman bermain, mereka bermain seadanya di TK Cendrawasih Sugapa Papua. Mereka tetap ceria.

Keceriaan anak-anak Papua ini beserta kak jimmi (perintis @1000_guru), mengingatkan kita bahwa mereka juga Indonesia. Perhatikanlah Pendidikan Anak Papua!

Perhatikanlah Pendidikan Papua, jangan hanya mengambil apa yg menjadi kekayaan Papua, tanpa membangun pendidikan yg berkualitas & merata. Liat pak Presiden,mrk jg generasi bangsa Indonesia, kpn negeri ini membangun pendidikan Papua seperti dipulau Jawa?

Dear pak presiden, kapan bangsa ini bangun jalan beraspal di seluruh pelosok Papua seperti di Pulau Jawa?

Cintailah Papua Sepenuhnya, Jangan Hanya Mencintai Emasnya Saja -- Selesai
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar